Sosial

Berkaitan dengan letaknya yang berada Jawa Timur bagian selatan suasana budaya masyarakat Jawa sangat terasa di Desa Serang dalam hal kegiatan agama Islam misalnya, suasananya sangat dipengaruhi oleh aspek budaya dan sosial Jawa. Hal ini tergambar dari dipakainya kalender Jawa/ Islam, masih adanya budaya nyadran, slametan, tahlilan, mithoni, dan lainnya, yang semuanya merefleksikan sisi-sisi akulturasi budaya Islam dan Jawa.

Dengan semakin terbukanya masyarakat terhadap arus informasi, hal-hal lama ini mulai mendapat respon dan tafsir balik dari masyarakat. Hal ini menandai babak baru dinamika sosial dan budaya, sekaligus tantangan baru bersama masyarakat Desa Serang Dalam rangka merespon tradisi lama ini telah mewabah dan menjamur kelembagaan sosial, politik, agama, dan budaya di Desa Serang tentunya hal ini membutuhkan kearifan tersendiri, sebab walaupun secara budaya berlembaga dan berorganisasi adalah baik tetapi secara sosiologis ia akan beresiko menghadirkan kerawanan dan konflik sosial.

Kegiatan budaya dan berkesenian masyarakat yang saat ini masih menjadi tradisi diantaranya adalah ;

  • Upacara Larung Sesaji 1 Suro di Wisata Pantai Serang.
  • Tradisi Bersih Desa yang biasanya dilaksanakan pada awal bulan Selo (kelender Jawa). Dalam kegiatan ini umumnya dilaksanakan pagelaran kesenian daerah seperti Wayang kulit, jarangan, dan sebagainya.
  • Baritan yang biasanya dilaksanakan pada saat musim kemarau menjelang musim penghujan serentak seluruh Desa, sebagai wujud do’a meminta di datangkan hujan.
  • Tradisi Methik Padi yang dilakukan oleh petani yang akan menuai hasil panenannya. Tradisi ini merupakan ungkapan syukur para petani atas hasil panenan yang akan mereka dapatkan. Untuk itu para petani mengadakan selamatan yang dilaksanakan di areal sawah yang akan dipanennya. Belakangan tradisi ini sudah mulai luntur dan jarang dilaksanakan oleh para petani.
  • Tradisi Ruwat Murwakala yang dilakukan masyarakat di saat hajatan bagi sebagai wujud membuang kesialan dan atau mencari keselamatan bagi anak-anaknya. Biasanya yang di ruwat murwakala adalah anak hanya satu, anak satu laki- satu perempuan (kedono-kedini), atau anak pertama perempuan, kedua laki-laki dan anak ketiga perempuan (pancuran kapit sendang dan lainnya sesuai dengan pakem pewayangan jawa.

Wujud apresiasi masyarakat untuk berkesenian telah lama dilaksanakan melalui berbagai kesenian yang ada di Desa Serang seperti wayang orang, seni langen beksan, jaranan, tari-tarian dan sebagainya. Beberapa jenis kesenian kini makin jarang dipentaskan akibat sepinya minat dan tidak adanya penerus terhadap kesenian tersebut.

Kegiatan olah raga Desa Serang umumnya dilaksanakan melalui jenjang pendidikan sebagai satu mata pelajaran. Dari jenjang pendidikan inilah kemudian muncul atlet-atlet olah raga berprestasi. Bagi generasi muda di Desa Serang cabang-cabang olah raga yang banyak dilakukan diantaranya ; Sepak Bola dan Bola Volley. Namun karena sarana prasarana belum mendukung dan belum di tangani secara baik maka masih berjalan tidak maksimal hanya sebatas hobi yang kebanyakan semusim saja. 

Dari sisi keagamaan, penduduk Desa Serang didominasi oleh agama Islam disusul oleh Kristen dan Katholik. Dengan komposisi jumlah pemeluk agama di Desa Serang sebagaimana tabel 6 di bawah ini :

Jumlah Pemeluk Agama di Desa Serang 

NoAgamaJumlah
1Islam4.671 orang
2Kristen29 orang
3Katholik 15 orang