Kata PAUD mungkin sudah tak asing lagi di telinga pembaca, apalagi di dunia pendidikan. Pendidikan Anak Usia Dini, itulah kepanjangannya. Dari kepanjangan singkatan tersebut sudah jelas, bahwa PAUD merupakan “kawah candradimuka” pendidikan anak-anak usia dini atau di bawah lima tahun.

Oleh karena aturan dari pemerintah, bahwa satu desa harus memiliki satu PAUD, maka Pemerintah Desa Serang di tahun 2012 juga tak mau ketinggalan. Akhirnya, berdirilah PAUD yang di motori oleh organisasi Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK). Saat itu, Sulamsih selaku Ketua PKK sekaligus istri dari Kepala Desa berkoordinasi dengan berbagai pihak dan tercetuslah nama PAUD Tunas Harapan Bangsa. Meski kini sudah tidak menjabat, tetapi PAUD Tunas Harapan Bangsa tetap berdiri kokoh dibawah naungan PKK yang di pimpin oleh Yuliatina, istri dari Kepala Desa pengganti (Dwi Handoko, red) yang dimulai tahun 2015 hingga sekarang.

Pada awal pendirian PAUD, dikisahkan penuh dengan perjuangan tanpa kenal lelah. Tak peduli badai menerpa, PAUD harus tetap didirikan. Meski belum memiliki sejengkal tanah, akhirnya kediaman Suhut, salah satu warga yang berada di RT 3 RW 4 Dusun Serang Dua di manfaatkan. Segala keterbatasan di tepis oleh keinginan untuk maju dan berkembang.

Hingga dua tahun kemudian, saat pergantian Kepala Desa (Kepala Desa baru saat itu, Dwi Handoko, red), PAUD mendapatkan angin segar, sebuah lokasi untuk berproses pengajaran anak didik dipindah ke lingkungan Kantor Desa, menempati ruang PKK.

“Selama dua tahun menempati ruang PKK, kemudian pada januari 2017, Pemerintah Desa (Pemdes), akhirnya mengalokasikan anggaran Dana Desa untuk membangunkan gedung PAUD yang berlokasi disebelah selatan Kantor Desa. Selain mendirikan gedung, Pemdes juga memfasilitasi Alat Permainan Edukatif (APE),” ungkap Ina Marleni, kepala PAUD sekaligus pengajar.

Bukan hanya sekedar membangun gedung beserta fasilitasnya, legalitas PAUD pun juga tak luput dari perhatian Pemerintah Desa. Saat itu juga, legalitas PAUD tercatat di di Dinas Pendidikan Kabupaten Blitar. Tidak sampai di situ kepedulian Pemerintah Desa, Kesejahteraan Guru-pun juga diperhatikan sesuai dengan kemampuan Deaa.

Tak sekedar mimpi, tapi visi dan misi di tancapkan dalam tata laksananya. Menjadikan anak berakhlak mulia, cerdas, berprestasi dan mandiri sejak dini, itulah Misi mulia yang di emban PAUD Tunas Harapan Bangsa. Sebuah kalimat yang bukan hanya bualan, tapi terua diwujudkan dari waktu ke waktu guna memberikan kemajuan motorik pada anak.

Tiga Misi menjadi bidikan PAUD Tunas Harapan Bangsa saat ini. Pertama, Menjadikan anak berkepribadian baik. Kedua, Membentuk karakter serta mandiri anak. Sedangkan yang Ketiga, Mempersiapkan anak didik untuk kejenjang pendidikan yang selanjutnya.

Tiga misi yang manunggal untuk meningkatkan kualitas anak. Dari waktu ke waktu, dalam pengajaran misi itu di pampang dalam keseharian. Agar selalu menjadi pedoman dan arahan setiap melangkah.

Dari Visi dan Misi tersebut, PAUD Tunas Harapan Bangsa memiliki tujuan Mewujudkan anak yang cerdas, jujur, sopan berkarakter sejak dini dan menjadikan anak mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan. Sedangkan tujuan khusus adalah a) Mengoptimalkan potensi kecerdasan majemuk (multiple Intelligences) yang dimiliki anak usia dini. b) Memberikan layanan kesehatan dan gizi pada anak serta c) Mensosialisasikan program PAUD, kepada masyarakat akan pentingnya pendidikan anak usia dini.

Bukan hanya sampai di sini para pengurus dan pengajar berpuas diri. Perencanaan dimasa depan mendatangpun di rancang. Pertama, Menyiapkan ketersediaan tempat dan sarana-prasarana yang sesuai standart bagi pendidikan anak usia dini. Kedua, Meningkatkan profesionalisme tenaga pendidik dalam mengelola pendidikan yang menyenangkan dan berpotensi serta berkualitas. Sebuah tulisan yang di rancang untuk di laksanakan.

”PAUD ini memiliki luas bangunan 45 meter persegi, dilengkapi dengan kamar mandi, menampung 13 anak didik untuk tahun pelajaran 2020/2021,” ungkap Kepala PAUD ini. Lebih lanjut, beliau menerangkan, bahwa melaksanakan pendidikan di PAUD Tunas Harapan Bangsa tak mudah. Hal ini di karenakan kurangnya kesadaran masyarakat akan pentingnya pendidikan anak usia dini.

Dalam pembelajaran Setiap hari ada enam aspek yang meliputi ; Nilai Agama dan Moral, Fisik Motorik, Bahasa, Kognitif, Seni, Sosial Emosional. Dalam praktiknya pendidikan tak melulu di dalam ruangan, tetapi juga di luat ruangan. Semisal, membersihkan lingkungan kelas, menanam sayuran dan berbagai hal untuk meningkatkan pemahaman anak.

Ida Nurohmah, salah satu wali murid mengaku, pendidikan anak harus dimulai dari dini, sekalipun di PAUD memiliki ruang bermain tetapi diimbangi dengan belajar. Dan dari sinilah pendidikan anak di mulai, dari kepribadian anak seperti jasmani, rokhani, intelektual dan sosial.

“Perbedaan sangat terlihat mulai masuk PAUD, anak menjadi lebih disiplin dan terampil. Dengan adayan PAUD Tunas Harapan Bangsa, sangat membantu proses belajar kejenjang selanjutnya,” ungkap Nona Watia, wali murid alumni tahun 2017.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here