Sejarah Desa

Desa Serang dulu kala merupakan hutan belantara yang konon “jalmo mora jalmo mati “menurut riwayat ada seseorang yang berani datang membabat hutan yaitu  Ki Marto Sentono yang berasal dari Kerajaan Mataram  Jawa Tengah namun karena beliau sendiri tidak mampu untuk melaksanakan babat hutan,  maka Ki Marto Sentono kembali ke Mataram dan mengadakan sayembara untuk mencari seseorang yang mampu untuk diajak babat hutan diwilayah tersebut bersamanya.

Setelah beberapa hari datanglah Ki Ageng Serang Djoyo Kadiyo seorang keluarga Sultan Mataram, beliau sanggup membantu untuk babat hutan di wilayah Pantai Blitar Selatan tersebut (red.Pantai Serang). Kemudian berangkatlah Ki Marto Sentono di ikuti Ki Ageng Serang Djoyo Kadiyo beserta istri Dewi Aminah, Ketiga orang tersebut mulai berani melaksanakan babat hutan,walau dengan susah payah dan perjuangan yang banyak rintangan yang menghalangi,namun akhirnya mereka berhasil juga.

Tidak lama selang beberapa bulan,datang lagi yang mengaku juga dari Mataram,mereka adalah sepasang kakak beradik yang bernama Cokro Digdoyo dan Cokro Wardoyo dan ikut melanjutkan babat hutan di wilayah tersebut.

Tanpa terasa seiring perjalanan waktu kelima orang tersebut telah melaksanakan babat hutan dan berdomisili di wilayah tersebut .Selama kurun waktu tiga tahun telah mengalamai perkembangan,mereka berusaha mewujudkan suatu tatanan perkampungan yang kelak pada masa yang akan datang dapat digunakan untuk istirahat para perantau.

Selanjutnya setelah itu secara bertutut –turut datang lagi orang yang bergabung dengan mereka berlima,yaitu Sidi Wijaya, Amad Ngaliman, Setro Pawiro, Karso Joyo dan Wono Kariyo. Setelah semakin banyak orang datang untuk mengikuti babat hutan di wilayah tersebut,maka pada waktu tidak lama wilayah tersebut menjadi perkampungan yang ramai dibawah perintah Ki Ageng Djoyo Kadiyo yang telah terdahulu bersama Ki Marto Sentono, selanjutnya dengan telah dibukanya perkampungan tersebu terdengar keberbagai wilayah,sehingga semakin banyak orang yang datang untuk mengikuti jejak Ki Ageng Serang Djoyo Kadiyo,muncul lagi orang yang bernama Kromo Dimedjo dan Suro Wijoyo yang ikut bekerja keras untuk membangun perkampunangan tersebut.

Pada suatu hari Ki Ageng Serang Djoyo Kadiyo mengumpulkan seluruh penduduk untuk diajak musyawarah mengenai kelanjutan pemerintahan wilayah tersebut ( red.Desa Serang ), musyawarah yang dipimpin Ki Ageng Serang Djoyo Kadiyo berjalan lancar dan mengangkat sesorang Kepala  Kampung yaitu Ki Marto Sentono,keesokan harinya setelah Ki Marto Sentona diangkat menjadi Kepala kampung ( Kamituwo ) yang pertama kalinya,tiba-tiba Ki Ageng Serang Djoyo Kadiyo beserta Istrinya menghilang tanpa jejak ( jawa : musno ).Maka selanjutnya atas kesepakatan penduduk wiyah tersebut di beri nama “ SERANG “ ,mulai saat itulah wilayah Serang telah menjadi suatu pemerintahan dusun.

Sekitar tahun 1880 resmi menjadi wilayah dusun dibawah pemerintahan Desa Bacem Kecamatan Sutojayan (Lodoyo ) Kabupaten Blitar.Ki Marto Sentono resmi menjadi kamituwo dusun Serang sejak tahun 1880 sampai dengan tahun 1891. Sebelas tahun kemudian Dusun Serang sudah banyak penduduknya dan menurut pertimbangan Pemerintah Daerah Kabupaten Blitar sudah bisa disebut Desa dan dikepalai Kepala Desa. Maka selanjutnya pada tahun 1892 diangkat seorang Kepala Desa yang pertama bernama Ahmad Idris.

Dan kemudian setelah itu menjadi ramai dan banyak yang berdatangan untuk berdomisili dan menetap di Desa Serang.