Berdiri sejak 1994, mulai aktif santri sejak 2002, Madrasah Diniyah (MD) Miftahul Ulum, Dusun Serang 2 Rt 1 Rw 4, Kecamatan Panggungrejo, Kabupaten Blitar beroperasi dari para donatur, BOSDA (Bantuan Operasional Sekolah Daerah) dan bantuan dari masyarakat sekitar.

MD Miftahul Ulum merupakan madrasah non reguler, dimana santri-santri masuk satu minggu penuh selain hari jum’at. Dibagi menjadi dua shift, yaitu pukul 14.00 hingga 15.00 WIB untuk Pendidikan Usia Dini (Paud, TK) dan pukul 15.00 hingga 17.00 WIB untuk SD dan SMP. Hal tersebut dilakukan dengan pertimbangan santri mampu membaca. Selain itu, untuk saat ini, mengingat harus menerapkan protokol kesehatan.

Ada empat mata pelajaran diantaranya, aqidah akhlak, usmani, tajwid dan fiqih.

Saat ini, sebanyak 64 santri yang belajar di MD, namun jumlah tersebut dipastikan akan tambah seiring memasuki penerimaan santri baru.

Selama Pandemi Covid-19 kegiatan belajar mengajar berhenti. Hal ini mengikuti anjuran pemerintah untuk mengantisipasi penyebaran covid 19. Namun, saat ujian, para guru mengantarkan soal kepada santri ke rumah masing-masing.

Syaifudin, selaku Kepala MD menyampaikan, santri-santrinya banyak yang berprestasi. Beberapa kali madrasah-nya mengikuti lomba keagamaan dan pernah menjadi juara umum.
“Juara mulai dari khitobah, adzan, tartil Al Qur’an. Baru sampai ke tingkat kecamatan, perlombaan pawai antara MI dan MD di Panggungrejo. Selain itu setiap hari jum’at belajar hadrah dan satu bulan sekali khataman bagi yang sudah nampu al-qur’an (qotmil qur’an),” ujarnya.

Lebih lanjut, Syaifudin, pria paruh baya ini menjelaskan, selama kurang lebih 26 tahun berdiri, bukan hanya dari bantuan saja untuk kelangsungan operasional. Melainkan, para santri juga diwajibkan membayar Surat Persetujuan Pembayaran (SPP) sebesar Rp 10 ribu per bulan.
“Operasional ya dari para donatur, BOSDA dan bantuan masyarakat sekitar, sama SPP, itu saja,” katanya.

Sementara para tenaga pengajar, pria murah senyum ini menyampaikan dihitung dari setiap pertemuan. Para guru setiap pertemuan dibayar sebesar tiga ribu rupiah. Dengan kalkulasi, apabila mengajar penuh, mendapat honor sebesar 26 ribu rupiah perbulan. Sungguh, sebuah pengabdian yang tidak bisa di pandang sebelah mata.

“Guru-guru menerima honor satu bulan sekali, dihitung dari setiap pertemuan, satu minggu biasanya dua kali pertemuan, selain itu bantuan dari Desa satu tahun sekali 180 ribu rupiah hingga 235 ribu rupiah, itu saja berjalan masih dua tahun terakhir, sebelumnya tidak ada,” katanya.

Tidak ada yang istimewa dari madrasah ini bila dilihat dari gedung. Bangunan hanya ada disamping serambi masjid dan didepan masjid. Setiap ruangan dibatasi oleh tembok.

Meski dengan keterbatasan kemampuan, fasilitas dan lain-lain, kepala dan para guru MD ini tidak mau menyerah dan tak terpikir untuk berhenti mengajar. Bahkan, Syaifudin sendiri sudah 18 tahun nenjadi kepala. Meskipun dalam kondisi serba terbatas, Syaifudin menyampaikan masih ingin terus bertahan. “anak-anak harus dibekali ilmu agama yang kuat sejak dini. Dan ini menjadi kewajiban kita untuk mengabdi,” tegasnya.

“Kami mengingat anak-anak kalau tidak di didik agama sejak dini kemungkinan anak juga sulit untuk berkembang. Tujuan kami kan mendidik menjadi putra-putri yang akhlakul qarimah, sholeh dan sholehah,” tandasnya.

Semoga, apa yang menjadi cita-cita Madrasah ini bisa tercapai hingga anak-anak didiknya berkembang sesuai dengan harapan dan mampu menjadi generasi penerus yang gilang gemilang.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here