Tahukah anda, Tiwul dan Gatot? Ya, makanan yang dibuat dari ketela pohon atau singkong. Konon, makanan ini pernah menjadi makanan pokok sebelum adanya Beras. Berjalannya sang waktu, makanan jenis tiwul dan gatot ini sempat menjadi cemoohan dan sering digunakan bahan lelucon oleh masyarakat.

Kini, perlahan tapi pasti, tiwul dan gatot mulai merangkak kembali menjadi makanan konsumsi yang bernilai lebih dari sekedar beras. Bahkan, harganya terbilang lebih mahal dari beras. Di tangan Hadi Zain (21), makanan daerah seperti tiwul dan gatot menjadi sumber penghasilan yang menjanjikan. Pemuda asal Desa Serang ini mengolah bahan makanan berbahan dasar ketela tersebut menjadi produk instan. Makanan ini juga dikenal sebagai makanan pengganti nasi putih. Produknya kini menjadi produk yang digemari kalangan masyarakat perkotaan.

            Hadi melihat bahwa makanan tradisional cenderung memakan waktu dan pembuatannya. Dari situlah, muncul pemikiran atau ide berkreasi dengan menciptakan produk makanan tersebut secara instan. Agar dapat dinikmati kapan saja dan di mana saja. Praktis dan ekonomis.

            Hadi mengakui bahwa dalam menjalankan usahanya terdapat  tantangan yang tidak ringan. Dia harus bersaing dengan produsen pabrikan yang dapat membuat tiwul dan gatot instan dalam skala besar dengan waktu singkat. Tidak hanya itu, musim penghujan seperti saat ini, sedikit ada hambatan dalam pembuatan gatot dan tiwul, karena masih mengandalkan sinar matahari.

            Meskipun mengalami berbagai tantangan, Hadi  mengatakan usahanya tetap memiliki peluang yang besar. Para wisatawan kota yang merindukan makanan daerah seperti tiwul dan gatot yang sulit ditemui di daerahnya. Terlebih lagi makanan khas yang siap saji ini juga bisa menjadi oleh-oleh khas untuk para wisatawan Pantai Serang. Untuk pemasaran produknya masih di pasar sekitaran Blitar Raya.

            “Dengan teknik pembuatan yang masih manual saat ini, kami hanya bisa memproduksi sekitar 50 kilogram (kg) tiwul instan per minggu. Jumlah tersebut masih jauh di bawah permintaan pasar yang mencapai tiga hingga empat kali lipat,” ungkapnya.

Dalam memasarkan produknya, Hadi menggunakan kantong plastik untuk pengemasannya. Dengan ukuran kemasan 1 kg, harga Gatot tigabelas ribu perkilo dan Tiwul duabelas ribu perkilo. Hingga sejauh ini, kendala yang di hadapi adalah dalam hal menambah kapasitas produksi, karena tidak memiliki peralatan pendukung yang memadai.(DI-PID)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here