Kenthongan yang berada di Kantor Kepala Desa Serang.

Thong… Thong… Thong… Thong… Thong… Thong…

Thong… Thong… Thong… Thong… Thong… Thong…

Thong… Thong… Thong… Thong… Thong… Thong…

Enam kali suara kenthongan di pukul dengan ritme cepat hingga 3 berlangsung, menandakan keadaan aman.

Suara yang tak asing lagi di telinga. Alat musik pukul yang satu ini, merupakan bagian dari budaya. Bahkan, suara jumlah ketukan yang khas merupakan kode atau sandi tertentu dalam komunikasi di masyarakat. Kentongan salah satu alat musik yang menjadi cirri kearifan lokal. Diwariskan secara turun-temurun dari satu generasi ke generasi. Bukan hanya melalui cerita, tetapi melalui fakta.

   Kesenian merupakan salah satu unsur kebudayaan yang menyimpan berbagai nilai keindahan. Seperti bunyi kentongan. Merujuk pengertian dari Kamus Besar Bahasa Indonesia, kentongan merupakan bunyi yang berasal dari bambu atau kayu berongga. Bentuk kentongan memang unik. Banyak yang mengenalnya sebagai alat musik tradisional Jawa.

Bunyinya yang “thong thong” sangat identik. Kentongan itu bukan hanya alat musik. Jika dipukul, dengan ritme tertentu maka akan menimbulkan makna atau simbol komunikasi di dalam kehidupan bermasyarakat.

Pada setiap banyaknya bunyi pukulan pasti ada kode tersendiri. Disaat siang atau malam terdengar bunyi kentongan, maka orang pasti akan menghitung berapa banyak jumlah pukulannya. Dari bunyi frekuensi tersebut, orang bisa mengetahui peristiwa apa yang sedang terjadi. Lengkap dengan strategi apa yang harus dipersiapkan untuk menghadapi peristiwa tersebut.

   Untuk mengetahui peristiwa apa yang sedang terjadi, tidak perlu menunggu pengumuman dari mulut ke mulut dan atau bertanya-tanya. Suara kentongan sudah mewakili itu semua. Ada beberapa jenis kode atau sandi dalam bunyi-bunyi kentongan yang di kenal di masyarakat.

Misalnya, Berbunyi enam kali ketukan secara cepat dan berulang sebanyak tiga kali, kode tersebut bermakna pertanda keadaan aman.  Sedangkan bila  kentongan berbunyi tiga ketukan cepat dan berulang-ulang, bermaksud memberi informasi bahwa ada kebakaran.

   Tidak berhenti sampai di situ. Setiap manusia yang hidup pasti akan mati. Untuk mengabarkan kepastian tersebut, masyarakat akan membunyikan kentongan dengan sebutan Doro Muluk. Yang berarti burung dara  terbang. Terbang yang dimaksud adalah terbang yang tegak ke atas. Kentongan doro muluk ada dua jenis yaitu doro muluk dua kali dan doro muluk tiga kali. Doro muluk dua kali jika yang meninggal masih anak – anak dan doro muluk tiga kali untuk yang meninggal orang dewasa.

   Nada sangat khas, pukulan pertama dan ke dua ada jeda sesaat. Selanjutnya pukulan ketiga dan seterusnya semakin cepat dengan suara yang melemah, setelah mencapai titik suara terendah ada jeda sesaat terus menguat lagi namun lambat interval pukulannya. Jika yang meninggal dewasa diulangi tiga kali dan kalau yang meninggal anak – anak cukup dua kali.

   Sebutan Titir untuk perihal situasi yang sangat berbahaya. Nada suara kentongan titir, kentongan dipukul secepat – cepatnya tanpa nada tinggi rendah suara. Suara itu mencerminkan kepanikan dari warga. Kentongan titir boleh dibunyikan oleh seluruh warga yang membutuhkan pertolongan.       

   Orang Jawa sangat lengkap dalam memperhatikan peristiwa dalam kehidupan. Bahwasanya manusia hidup berdampingan dengan alam. Tidak bisa dipungkiri kadang terjadi yang namanya bencana alam.

   Saat terjadi bencana alam, masyarakat sudah siap siaga untuk menginformasikan melalui bunyi kentongan. Saat terdengar bunyi empat kali berulang-ulang (titir) dengan cepat tanpa jeda, memberikan pertanda bahwasannya saat itu sedang terjadi bencana alam. Seperti banjir, angin topan, kebakaran, tanah longsor.           

   Selain titir dan doro muluk, ada lagi pukulan yang namanya Kentong sepisan,  ini dibunyikan untuk memberitahukan kepada seluruh atau sebagian warga untuk berkumpul baik untuk melakukan musyawarah maupun kerja bakti. Nada suara kentong sepisan ini juga terdengar santai dan tenang. Dari keras lalu semakin lemah hingga suara paling lemah kemudian mengeras lagi. Interval antar pukulan juga sangat terasa tidak tergesa – gesa. Kentong sepisan ini bisa dibunyikan oleh Kepala Desa ataupun  Kepala Dusun.

   Yang berikutnya adalah Kentong sambang, ini biasanya dibunyikan pada malam hari menjelang tengah malam dan sesudahnya. Kentong sambang bermakna mengabarkan bahwa masih ada yang berjaga yang belum tidur, dengan nada beraturan sesuai dengan Jam. Biasanya setelah seorang warga membunyikan kentong sambang akan segera disambut oleh warga lain yang sama – sama belum tidur.

   Bermodal dengan alat sederhana, semua masyarakat bisa mendapatkan berita dengan valid dan pada waktu yang sama juga, masyarakat langsung berkumpul ke tempat terjadinya peristiwa tersebut.

   Berbeda dengan keadaan saat ini, teknoligi semakin canggih, namun terkadang masih belum bisa mengabarkan sesuatu dengan aktual seperti kentongan. Malah, teknologi sekarang lebih banyak menghasilkan informasi palsu atau keliru alias hoaks.

   Marilah terus melestarikan warisan leluhur, dengan menjaga tradisi salah satunya menyemarakan kentongan di zaman modern ini.(DI-PID)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here