Gadung merupakan sejenis umbi-umbian. Juga merupakan tanaman pangan. Tetapi mengandung racun yang mengakibatkan pusing dan muntah, apabila salah pengolahannya.

Supodo (44), warga Dukuh Grobokan, Dusun Serang 3, Desa Serang yang memproduksi krupuk gadung sejak 2002. Ditangan pria paruh baya ini, gadung yang mengandung racun bisa diolah menjadi krupuk yang gurih dan renyah. Bahkan sejak empat tahun lalu, masyarakat sekitar mulai mengikuti jejaknya.

Kini, dari 70 KK yang ada di wilayah tersebut, 25 KK di antaranya memproduksi kerupuk Gadung. Suatu usaha yang tak bisa di pandang sebelah mata untuk peningkatan perekonomian desa.

Dikarenakan pengolahan krupuk gadung yang sulit, jarang pengusaha yang melirik usaha ini. Di Serang sendiri bisa dibilang hanya masyarakat Grobokan yang memproduksi krupuk gadung.

Dalam satu bulan rata-rata bapak dua anak ini, memerlukan sekira empat kwintal gadung. Gadung didapatkan dari wilayah Serang dan sekitarnya seharga Rp.1000;- perkilogram.
“Gadung merupakan umbi musiman. Pasokan melimpah dimusim kemarau, antara bulan Maret hingga Juli. Selama empat bulan tersebut rata-rata pasokan Gadung yang saya terima dari petani kurang lebih 2 ton,” ungkap Supodo.

Dalam proses pengolahannya, Gadung seberat satu kwintal menghasilkan 15 kg kerupuk kering. Terjadi penyusutan yang signifikan dalam proses pengeringan.

Jika dikalkulasi dalam satu bulan, Supodo bisa memproduksi sekitar 60 kilogram krupuk Gadung.
“Proses pembuatan krupuk Gadung sendiri cukup menyita waktu. Setelah dikupas hingga bersih umbi Gadung diiris tipis menggunakan alat khusus dengan ketebalan 2 milimeter, lalu Gadung dilumuri abu. Kemudian irisan buah Gadung direndam dengan air mengalir selama 20 menit lalu dibilas menggunakan air bersih, selanjutnya direbus hingga lunak dan dijemur,” ucap Rianik, istrinya.

Pada proses pengeringan, sering menjadi kendala, terutama saat musim penghujan, penjemuran krupuk Gadung bisa berlangsung tiga hingga empat hari, yang normalnya hanya dua hari.

“Proses perebusan menggunakan kayu bakar. Karena cita rasanya lebih gurih dibandingkan menggunakan kompor gas,” urai Supodo.

Setelah irisan umbi Gadung kering bisa langsung kemasan dan pasarkan dengan berat satu dan sepuluh kilo perbungkus.

Pemasaran menjadi titik fokus yang lumayan sulit setelah produksi selesai. Di katakan sulit karena, tidak semua orang bisa menerima kehadiran kerupuk gadung. Konsumen yang tidak suka tersebut, karena takut keracunan. Padahal dengan olahan yang baik, racun di dalam Gadung tersebut hilang. Selain konsumen tertentu, saat ini produsen kurupuk gadung juga menjamur. Hal ini menjadi tantangan tersendiri bagian pemasaran. Untuk produk krupuk Gadung milik Supodo ini, pemasaranya berada di wilayah Blitar dan Kediri.

Dari penjualan krupuk gadung omset yang dikantongi supodo dan istri sebesar satu Juta perbulan. Ini yang menjadi alasan Supodo menekuni usaha krupuk gadung. “Pasar krupuk gadung masih sulit, dikarenakan semakin banyaknya membuat dan pemasaran kurang luas, ujar Supodo.

Sumidi, selah satu perangkat desa mengatakan, produksi krupuk gadung ini satu-satunya di Desa Serang. Pemerintah desa juga sudah mengadakan pelatihan terkait pengolahan krupuk gadung agar menghasilkan produk yang bagus dan berdaya saing.

Beliau melanjutkan, Pemerintah Desa melalui program yang peduli terhadap UMKM, kedepanya pengolahan krupuk gadung terus dikembangkan. Mulai dari pengemasan hingga memperluas wilayah pemasaran. “Krupuk gadung ini, saat ini menjadi salah satu produk unggulan Desa Serang, dan untuk dijadikan oleh-oleh,” pungkasnya.(DI-PID)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here